Kebanyakan orang tertawa terbahak bahak apabila dia melihat tingkah konyol yang dilakukan orang lain. Orang yang memiliki bakat humoris biasanya orang yang dapat dengan mudah membuat orang lain tertawa.
Banyak
sekali studi tentang humor ini (Lihat: Internet Encyclopedia of
Philosophy dan Wikipedia), humor merupakan understudied dalam disiplin
filsafat. Pada perkembangannya studinya, humor juga tidak lepas dari
berbagai teori-teori yang berusaha untuk menjelaskan mengapa humor
terjadi atau apa sebenarnya humor itu? Ada banyak sekali tentang teori
humor, namun dalam garis besarnya, berbagai teori tentang humor dapat
dikelompokkan dalam 3 (tiga) ragam, yaitu:
Pertama.
Teori Keunggulan (Superiority Theory), teori ini menekankan inti bahwa
humor adalah rasa lebih baik, rasa lebih tinggi atau lebih sempurna pada
diri seseorang dalam menghadapi suatu keadaan yang mengandung
kekurangan/ kelemahan. Dalam teori ini, seseorang akan tertawa jika
mendadak jika memperoleh perasaan
unggul karena dihadapkan pada pihak lain yang melakukan kekeliruan atau
mengalami hal yang tidak menguntungkan. Teori ini dapat dipakai untuk
menerangkan mengapa para penonton tertawa terbahak-bahak jika melihat
badut sirkus yang membentur tiang, jatuh tersandung, melakukan aneka
kekeliruan atau yang prilakunya menunjukkan ketololan!
Kedua.
Teori Ketaksesuaian/ Ketidaksesuaian (incongruity theory), Menurut
teori ini humor timbul karena perubahan yang sekonyong-konyong atau
tiba-tiba dari situasi yang sangat diharapkan menjadi suatu hal yang
sama sekali tidak diduga pada tempatnya. Tertawa terjadi karena harapan
yang dikacaukan (Frustrated Expectation) sehingga seseorang dari suatu
sikap mental dilontarkan kedalam suatu sikap mental yang sama sekali
berlainan.
Ketiga.
Teori Pembebasan (Relief Theory). Teori ini menyebutkan bahwa inti dari
humor adalah pembebasan atau pelepasan dari kekurangan yang terdapat
pada diri seseorang. Karena berbagai pembatasan dan larangan yang
ditentukan oleh masyarakat. Dorongan-dorongan batin alamiah dalam diri
seseorang mendapat kekurangan atau tekanan. Bilamana kekurangan/ tekanan
itu dapat dilepaskan oleh misalnya dengan (maaf) lelucon sex, sindiran
jenaka, atau ucapan nonsense (omong kosong), maka meledaklah perasaan
seseorang dalam bentuk tertawa..
Sumber : http://kodzan.blogspot.com

Tidak ada komentar:
Posting Komentar